KUMPULAN NASKAH TEATER

KUMPULAN NASKAH TEATER

1. Becik Ketitik Olo Piloro < Download >
2. Bendera Setengah Tiang < Download >
3. Matahari di sebuah jalan kecil < Download >
4. Pagi BeningDownload >
5. Pakaian dan Kepalsuan < Download >
6. Malam Jahanam < Download >
7. Nabi Kembar  < Download >
8. Sebuah Salah Paham < Download >
 

5 ( Lima ) KERIS PALING LEGENDARIS DI INDONESIA

Keris pada masa lalu biasa di gunakan sebagai senjata dan pusakapara ksatria untuk berperang biasanya sebuah keris memiliki kesaktian yang sunguh luar biasa yang membuat lawan lawan takut namun pada masa kini keris digunakan sebagai benda seni budaya dan menjadi koleksi koleksi pecinta keris. nah kamu mau tahu keris apa aja yang menjadi legenda di tanah air ini simak 5 Keris Paling Legendaris di Indonesia berikut ini :


1. Keris Mpu Gandring


Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok. Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dengan menusukannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji. Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni: Tunggul Ametung, Ken Arok, Anusapati dan keturunan Ken Arok.


2. Keris Kyai Setan Kober


Keris Kyai Setan Kober adalah nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Keris ini dikenakan pada waktu ia perang tanding melawan Sutawijaya. Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai. Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya, Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Kyai Setan Koberlangsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.
Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.


3. Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk


 Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka peninggalan Raja Majapahit. Nagasasra adalah nama salah satu dapur keris luk tiga belas dan ada pula yang luk-nya berjumlah sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan nama dapur ini harus disertai dengan menyatakan jumlah luk-nya.Bagian gandik keris ini diukir dengan bentuk kepala naga, sedangkan badannya digambarkan dengan sisik yang halus mengikuti luk pada tengah bilah sampai ke ujung keris.
Salah satu pembuat keris dengan dapur Nagasasra terbaik, adalah karya empu Ki Nom, merupakan seorang empu yang terkenal, dan hidup pada akhir zaman kerajaan Majapahit sampai pada zaman pemerintahan Sri Sultan Agung Anyokrokusumo di Mataram. Dapur Sabuk Inten, seperti juga dapur Nagasasra mempunyai luk tiga belasdengan ciri-ciri yang berbeda yaitu mempunyai sogokan, kembang kacang, lambe gajah dan greneng.


4. Keris Condong Campur

Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor. Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.
Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

5. Keris Taming Sari


Di ceritakan pemilik asal keris ini adalah merupakan pendekar atau hulu balang kerajaan Majapahit yang bernama Taming Sari. Keris ini kemudianya bertukar tangan kepada hulubalang Melaka yang telah berjaya membunuh Taming Sari bernama Hang Tuah. Perpindahan kepemilikan ini terjadi dalam suatu duel keris yang sangat luar biasa antara Taming Sari dan Hang Tuah, yang akhirnya dimenangkan oleh Hang Tuah.










( tentang keris, atau empu dan sejarahnya di tanah nusantara ini, silahkan klik disini )
 

WAYANG KLITIK TERANCAM PUNAH


Sebagai sarana hiburan dan penerangan terhadap masyarakat,Wayang Klitik terancam punah. Wayang ini mulai dikenal masyarakat pada masa berkembangnya agama Islam di Jawa sekitar abad 16 – 17. Pencipta Wayang Klitik ini tak lain adalah Sunan Kudus.
Wayang ini disebut Klitik karena saat dimainkan,dan ketika bergerak atau lebih tepatnya digerakkan akan terdengar suara klitik sebagai akibat wayang yang terbuat dari kayu yang bersenggolan atau bergesekan. Dalam pertunjukannya,Wayang Klitik sering mengambil cerita dari kisah/cerita Mahabarata – Ramayana atau juga cerita/kisah Damarwulan – Minak Jinggo.
Wayang Klitik ini terbuat dari kayu pipih yang dibentuk hampir menyerupai bentuk wayang Purwa. Wayang Klitik ini sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1648 M. Sedangkan dalam pementasannya,Wayang Klitik diiringi gamelan dan pesinden,tetapi tanpa menggunakan kelir/layar sehingga penonton dapat melihat secara langsung bentuk Wayang Klitik,yang mirip dengan pertunjukan wayang Golek dari daerah Jawa barat.
Selama ini,Wayang Klitik banyak ditemukan di daerah – daerah di Jawa Tengah seperti di Kudus. Disini Wayang Klitik masih berkembang dan biasa ditampilkan saat hajatan perkawinan,upacara bersih desa,dan berbagai upacara desa lainnya. Wayang Klitik sendiri oleh sebagian kalangan disakralkan.
Di Kudus kini hanya tinggal satu daerah yang melestarikan kesenian Wayang Klitik tersebut,yaitu di Desa Wonosoco. Seluruh peralatan serta 52 buah tokoh wayang yang ada merupakan warisan turun temurun dari para pendahulunya. Tak banyak yang tahu siapa siapa yang membawa Wayang Klitik hingga ke Desa Wonosoco.  Konon kesenian Wayang Klitik tumbuh seiring masuknya agama Islam di tanah Jawa,khususnya daerah Kudus.
Dalam satu kelompok kesenian wayang Klitik,biasanya didukung 18 orang yang dipimpin langsung oleh dalang dengan dibantu dua asistennya. Sisanya dua orang pesinden dan para penabuh gamelan.
Kita semua pantas prihatin karena tidak ada dan semakin sulitnya mencari seseorang yang mau menekuni wayang Klitik khususnya dari para generasi muda.
Wayang Klitik lebih sering menampilkan cerita atau kisah tentang Damarwulan,sehingga ada kemiripan dengan pementasan kesenian Ketoprak yang di visualkan dalam bentuk Wayang. Adapun yang membedakan Wayang Klitik dengan Wayang Purwo adalah pada suluk – suluk yang dibawakan oleh sang dalang. Tak banyak yang bisa memainkan Wayang Klitik,hal ini dikarenakan orang yang bisa memainkannya adalah turun temurun atau lebih tepatnya warisan dari orang tua – orang tua terdahulu.

Sumber (Radar Kudus hal. 11 Tanggal 22 Agustus 2011)


 

PROFIL TEATER LINGKAR SEMARANG ( 3 )


Thn 1990 Soek-Soek Peng karya Bambang Widoyo SP.
Thn 1991 Min Gereh karya Giwing Purba.

Thn 1992 Was-Was karya Prie GS.

Thn 1993 Pess karya Prie GS.


Thn 1994 Kursi karya Prie GS.
Thn 1994 Sekolah Unggulan karya Prie GS.

Thn 1995 Blong karya Prie GS.

Thn 1996 Rojokoyo atau Sugih Blegedhu karya Prie GS.


Thn 1998 Laron-Laron karya Prie GS.
Thn 2000 Kamasutra karya Giwing Purba.

Thn 2001 Sakit Itu Mahal karya Giwing Purba.

Thn 2001 303 karya Giwing Purba.


Thn 2001 Pardi Becak karya Giwing Purba.
Thn 2002 Usai Banjir karya Giwing Purba.

Thn 2002 Ringin Gandul karya Giwing Purba.

Thn 2002 Rentenir karya Giwing Purba.


Thn 2003 Blandong karya Eko Tunas.
Thn 2004 Koyak karya Jhony Nantono.

Thn 2005 Gerbong karya Eko Tunas.
Thn 2007 Kebebasan Abadi karya CN NAS
Thn 2008 Nyah Badrah atau Anjing Kesayangan karya Joni Nantono
Thn 2008 Airlangga karya Sanoesi Pane
Thn 2008 Dramatisasi puisi “Nyanyian Hati” karya Jeng Dhien

Kegiatan lain yang diselenggarakan Teater Lingkar diluar pementasannya antara lain :
Thn 1983-1987 Menyelenggarakan Festival Baca Puisi Se Jawa Tengah
Thn 1986 Mengundang Rendra Baca Puisi di GOR Jawa Tengah.
Thn 1988 Menyelenggarakan pementasan Teater Gandrik di Auditurium RRI Semarang, dengan lakon “Upeti”.
Thn 1989 Menyelenggarakan pementasan Teater Gandrik di Auditurium RRI Semarang, dengan lakon “Orde Tabung”.
Thn 1990 hingga saat ini, menyelenggarakan pagelaran Wayang Kulit setiap malam Jum’at Kliwonan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS)
Thn 1998 Menyelenggarakan Festival Dalang Cilik di pertokoan Plasa Simpanglima.

Sebagai sebuah organisasi seni yang sudah cukup mapan, Teater Lingkar dilengkapi juga dengan AD/ART yang melandasi setiap kegiatan anggotanya. Tidak mengherankan jika sampai sekarang roda kehidupan organisasi Teater Lingkar tetap berjalan. Teater Lingkar saat ini diketuai oleh Mas Ton, Sekretaris Ir. Ari Wibowo, Bendahara Alfiyanto, Dept Sastra Prie. GS, Dept Musik Kristanto, Dept Art. Panggung Abas Effendi S.Pdi, Dept Lighting Alfi, Dept Make up dan kostum Jeng Dien, Dept Pendidikan dan Latihan Nurdaman dan Budi “BOBO”.
Sampai saat ini Teater Lingkar masih terus berkarya baik dalam pementasan teater maupun ikut serta melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi. Yang pasti tanpa dukungan dari anda Teater Lingkar bukan apa-apa.
-------------------------------------------------------Nuwun-----------------------------------------------------
 

PROFIL TEATER LINGKAR SEMARANG ( 2 )


Sebagai kelompok teater yang masih muda dan belum pengalaman menjadi event organizer, Lingkar terhitung terlalu berani. Apalagi pada saat itu, untuk mementaskan Rendra bukan hal yang gampang. Untuk perijinan saja baru turun beberapa jam sebelum pementasan. Alhasil, pementasan Rendra yang sangat monumental itu membawa kerugian Rp. 7 juta, sejumlah uang yang pada saat itu sudah cukup untuk membeli sebuah mobil Kijang baru. Namun bukan Teater Lingkar namanya kalau tak mampu menebus “ kekalahan “ itu. Dengan selembar ijazah sarjana milik Bung Kirno, Lingkar akhirnya pinjam uang pada sebuah bank swasta (saat itu pinjam uang bisa menggunakan agunan ijazah sarjana)
Lalu bagaimana cara mengembalikannya ? 
Caranya dengan melakukan pementasan, setidaknya sebulan sekali. Hasilnya dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membayar utang. Dan itu berlangsung selama tiga tahun.

Keseriusan Teater Lingkar dalam mengggarap setiap pementasan pada akhirnya membuahkan hasil yang patut dibanggakan. Untuk tingkat Jawa Tengah Teater Lingkar adalah salah satu yang terbaik, langganan juara festival teater tingkat Jawa Tengah. Sudah tercatat sejak berdiri yaitu juara 1 drama bahasa jawa Kota Semarang dengan lakon “Kali ciliwung” 1986, juara 2 festival teater se Jawa Tengah, dengan lakon AA II UU 1987, juara 1 festival teater se jawa Tengah, dengan lakon “Nyi Panggung” 1988, juara 2 festival pertunjukan rakyat di Kendal 1989, juara 1 festival drama bahasa jawa di Solo, dengan lakon “ Sekolah Unggulan” 1994. juara 2 festival teater se Jawa Tengah di Solo, dengan lakon “ AA II UU”  1995, juara 2 festival bahasa jawa di Solo, dengan lakon “Rojokoyo/sugih mblegedu” 1996,
Dalam naskah skenario Teater Lingkar tidak terlalu konservatif. Selain naskah dari kreativitas para anggota sendiri, tidak jarang juga memakai naskah dari luar yang disajikan dalam gaya khas Teater Lingkar yang enak ditonton dan perlu.

Catatan pembuktian perjalanan pementasan lakon teater yang pernah di garap :

Thn 1980 Graffito karya Akhudiat.
Thn 1981 Malacak jalan ke Sorga karya St. Sukirno.

Thn 1982 Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek karya Danarto.
Thn 1982 Antigone karya ……

Thn 1982 Benang-benang Teles karya Poerwadi Atmodarminto.


Thn 1983 AA-II-UU karya Arifin C Noer.
Thn 1983 Pinangan karya Anton Chekov.

Thn 1983 Pangorbanan karya Aryono KD.

Thn 1983 Mentang-mentang dari New York karya Noorca Marendra.


Thn 1984 Aduh karya Putu Wijaya.
Thn 1984 Odipus Di Kolonus karya Sophocles.

Thn 1984 Nyai Adipati karya …..

Thn 1984 Kali Ciliwung karya Nursahid.


Thn 1985 Perkawinan atau Makelar Jodoh karya Nicholas Gogol.
Thn 1985 Menunggu Gepeng karya Eko Tunas.

Thn 1985 Semakin Sepi Semakin Indah karya Motinggo Busye.

Thn 1985 Tuan Kondektur karya Anton Chekov.


Thn 1985 Anusapati karya …….
Thn 1986 Rumah Tak Beratap, Rumah Tak Berasap karya Akhudiat.

Thn 1986 Malam Jahanam karya Motinggo Busye.

Thn 1987 Nyi Panggung karya Eko Tunas.


Thn 1987 Menunggu Tuyul karya Eko Tunas.
Thn 1988 Ronggeng Keramat karya Eko Tunas.

Thn 1988 Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijiaya.

Thn 1989 Orang Kasar karya Anton Chekov.

Selanjutnya baca juga PROFIL TEATER LINGKAR SEMARANG ( 3 )



 

PROFIL TEATER LINGKAR SEMARANG ( 1 )



Jika berbicara tentang Teater Lingkar dalam konteks Semarang maupun Jawa Tengah, Top of Mind pencinta seni teater mungkin tidak berada jauh dari perintis teater di kota ini. Teater Lingkar salah satu teater tertua yang masih tetap eksis hingga sekarang di Semarang, bisa dijadikan contoh bahwa dunia teater tidak akan pernah mati Waupun kadang kehidupannya redup seperti lampu Teplok.
Teater Lingkar sendiri berdiri pada tgl 4 Maret 1980, cukup senior jika waktu menjadi tolak ukurnya. Teater ini merupakan salah satu pioneer berdirinya teater-teater lain di kota Semarang. Spirit organisasinya masih bisa terjaga hingga sekarang. Teater yang bermarkas di jalan Gemah Jaya I No 1 Pedurungan Kidul ini pada awalnya terbentuk atas prakarsa sekelompok anak muda di jalan Genuk Krajan II No 9 atau tepatnya di sekitar Taman Singosari jalan Sriwijaya. Dulunya tempat tersebut merupakan terminal bus yang berdekatan dengan Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegal Wareng. Sebagai tempat keramaian dengan beragam aktifitas, tempat tersebut sangat potensial menjadi tempat rawan pada hal-hal yang negatif. Oleh karena itu kelompok pemuda yang biasa mangkal di sana berusaha untuk menciptakan suatu aktifitas yang positif dan bermanfaat. Berkat kegigihan usaha, akhirnya menbuahkan hasil dan terbentuklah Teater Lingkar.
Nama Teater Lingkar itu sendiri sarat dengan nilai-nilai filosofis yang mengilhami setiap anggotanya. Lingkar mempunyai satu titik pusat dengan jari-jari yang sama panjang, kalau diidentikan dengan Teater Lingkar sendiri, bisa diartikan bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama dengan hak serta kewajiban yang sama “ Walaupun sudah malang melintang di dunia teater, tidak membuat seniman-seniman dibidang seni lakon ini jadi tinggi hati. Masing-masing anggota memegang prinsip Ojo dumeh, yang artinya jangan terlalu merasa bahwa diri kita adalah yang “ Paling “ dalam segala hal. Ada pepatah Jawa mengatakan “ Ojo rumangso biso, Ning biso’a rumangso “. Kekuatan lain yang menjadi ciri kelompok ini adalah slogan 4T yaitu teteg (yakin), tekun (tekun), teken (berpegang teguh pada prinsip), dan tekan (sampai). Nilai filosofis yang terkandung didalamnya bisa disimpulkan bahwa tujuan akan sampai jika dilakukan dengan rajin dan tekun serta perpegang teguh pada prinsip yang dimiliki.
Sistem keanggotaan yang terbuka dan sukarela membuat setiap orang yang punya minat terhadap seni peran bisa bergabung. Saat ini keanggotaan Teater Lingkar didominasi oleh anak muda dengan latar belakang status yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai bahkan pengangguran. Sikap kekeluargaan sangat dijunjung tinggi oleh setiap anggota.
Pelestarian nilai-nilai budaya adalah salah satu misi yang sedang diemban oleh Teater Lingkar. Dengan secara rutin setiap malam Jum’at Kliwon menyelenggarakan pagelaran wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) jalan Sriwijaya No 29 Semarang. Memang harus di akui, anak muda sekarang ini sudah menunjukkan rasa antipati terhadap kultur budaya mereka sendiri, khususnya wayang kulit.
Padahal para pelaku telah mengupayakan mengubah Image mengenai wayang kulit dengan konsep yang berbeda yaitu dengan memasukkan unsur-unsur aktraktif dan menyederhanakan bahasa tanpa mengurangi maknanya.
Pegiat-pegiat Teater Lingkar paham benar tentang bagaimana cara membentuk kesan yang positif bagi pecinta seni terhadap karya-karyanya. Di samping pementasan teater dari kampung ke kampung, kota ke kota hingga hotel berbintag, Teater Lingkar juga melakukan kerjasama dengan Stasiun TVRI Jawa Tengah untuk menyiarkan pementasan mereka dengan mengusung lakon yang mudah dicerna oleh setiap lapisan masyarakat dengan khasnya Guyon Mathon yaitu menyindir tapi tidak menimbulkan sakit hati orang lain.
Menatap Teater Lingkar memang menatap sejarah panjang. Teater Lingkar pernah mengalami peristiwa yang kini masih membekas terjadi pada tahun 1986, saat menghadirkan WS. Rendra di GOR Semarang (sekarang Citraland). 


Selanjutnya baca juga  PROFIL TEATER LINGKAR SEMARANG ( 2 )  


 

Utuy Tatang Sontani

UTUY TATANG SONTANI; seorang pahlawan yang terusir dari negerinya
Lahir di Cianjur 1 Mei 1920.

Utuy adalah seorang sastrawan angkatan 45. Karyanya yang pertama adalah tambera ( versi bahasa sunda ; 1937 ) sebuah novel sejarah yang berlangsung di kepulauan maluku pada abad 17. Novel itu pertama kali di muat dalam Koran daerah berbahasa sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama.
Setelah itu Utuy menerbitkan kumpulan cerpenya, orang-orang sial (1951), yang diikuti oleh cerita-cerita lakon yang membuatnya terkenal. Naskah lakon pertamanya suling dan bunga rumah makan (1948),
Diantara naskah lakon-lakon karya Utuy yang terkenal adalah Awal Dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Bawah Langit Ada Bintang (1955), Sangkuriang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Si Kabayan (1959), dan Tak Pernah Menjadi Tua (1963).
Pada tahun 1958 Utuy diutus oleh pemerintah Indonesia sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika Di Tashkant,Uzbekistan.
Ketika hubungan politik Indonesia-Unisoviet semakin mesra, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan kedalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy (tambera) yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat.
Pada tahun 1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan 1 oktober di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok.
Pecahnya peristiwa G 30 S/PKI pada 1965 di Indonesia, membuat mereka terlunta-lunta di negeri asing, karena jika  kembali ke Indonesia berarti di tangkap dan di tuduh sebagai anggota G 30 S PKI seperti yang dialami oleh banyak kawan mereka. Situasi menjadi semakin sulit ketika di RRT sendiri pecah revolusi kebudayaan pada tahun 1966. sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Negara itu dan pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti Moskwa, termasuk Utuy.
Kedatangan Utuy di Moskwa pada 1971 disambut hangat oleh pemerintah Unisoviet dan masyarakat ilmiah disana. Karena nama Utuy sudah dikenal luas atas karya-karyanya. Utuy diminta mengajar bahasa dan sastra Indonesia di moskwa. Di sana ia sempat menyusun sekurang-kurangnya empat buah novel dan autobiografi hingga ia wafat pada 1979 di mokswa. Salah satu novel yang ditulis dan diterbitkan di mokswa adalah Kolotok-kolotok, dibawah langit tak berbintang adalah memoir dan auto biografinya yang mengisahkan pengalaman hidupnya dalam pengasingan di RRT dan Rusia.
Ketika ia meninggal sebagai penghormatan, nisannya di tempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam di  Moskwa

Untuk membaca Biografi Utuy Tatang Sontani lebih lengkapnya, bisa klik Link dibawah ini :


Salah satu tulisan dari Utuy Tatang Sontani, yaitu Awal dan Mira. Hanya beberapa kupasan tentang tulisan tersebut.


CERPEN KARYA :  
UTUY TATANG SONTANI 
JUDUL : 
AWAL DAN MIRA – DRAMA SATU BABAK  
TEBAL 47 HALAMAN
PENERBIT :  
KIWARI – BANDUNG 
1962

SEKILAS TENTANG AWAL DAN MIRA
Peristiwa ini terjadi pada suatu malam dalam tahun 1951 didepan kedai kopi kepunyaan seorang perempuan bernama Mira.  Yang dimaksud dengan kedai kopi kepunyaan Mira itu sebenarnya serambi muka dari rumah Mira yang dibangun jadi kedai kopi. Dan rumah Mira itu rumah bambu,kecil tapi masih baru, letaknya menghadap kejalan, didirikan diatas bekas reruntuhan rumah batu yang hancur oleh peperangan, terpencil jauhdarikeramaian.
Malam itu pukul sembilan lebih, Mira yang cantik asik menyulam di belakang dagangan, di bawah lampu listrik, hanya kelihatan dari dada ke atas.
Ibunya, yang sudah berusia lanjut, ada di ruangan luar kedai, asik mengatur-ngatur penempatan dagangan. Dan di depan kedai di atas bangku duduk seorang laki-laki masih muda, menghadapi gelas kopi di atas meja.
 Laki-laki itu menghabiskan kopinya, kemudian menyerahkan uang kepada Mira seraya katanya :
” kembali setalen !”
 Tetapi Mira yang duduk di belakang dagangannya tidak mengasih uang pengembalian. Setelah menerima uang dari laki-laki, asik lagi saja ia menyulam.
” Mana kembali !” tanya laki-laki.
” Bah, jawab Mira.
” Setalen ya setalen.”
” Betul setalen,itu setalen,” kata Mira lagi, ” tapi tidak kah tuan merasa bahwa tuan terlalu lama tuan duduk disini,terlalu lama melihat wajahku ?”
” Melihat wajah mu mesti bayar
” Mengapa tidak ?” balas Mira pula.” memang nya istrimu cantik seperti aku ?”

Berikut adalah hasil penelusuran tentang respon terhadap karya - karya Utuy Tatang Sontani, yaitu Bedah Buku yang dilakukan sekitar Th 1960an

Bedah Buku Karangan Penulis Legendaris Utuy Tatang Sontani
“SULING”, ”BUNGA RUMAH MAKAN” & “AWAL DAN MIRA”
oleh H.B.Jassin pada th 1960
KATA PENGANTAR DARI DR IWAN :
BEDAH BUKU INI SAYA PERSEMBAHKAN BAGI PARA SASTRAWAN DAN SENIMAN DI DUNIA KHUSUSNYA INDONESIA AGAR DAPAT DIJADIKAN PEDOMAN TEKNIK BEDAH BUKU YANG SANGAT LUAR BIASA DARI SASTRAWAN INDONESIA H.B.JASSIN

 

Perbedaan Teater dengan Drama




BEBERAPA PENGERTIAN
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan.

ARTI DRAMA
Arti pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axciting), dan ketegangan pada para pendengar.
Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Ferdinand Brunetierre : Drama haruslah melahirkan  kehendak dengan action.
Menurut Balthazar Vallhagen : Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak.
Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).

ARTI TEATER
Ada yang mengartikan sebagai “gedung pertunjukan”, ada yang mengartikan sebagai “panggung” (stage). Secara Etimologi (asal kata), Teater Adalah Gedung Pertunjukan (auditorium).
Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup dah kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak. Misalnya Wayang Orang, Ludruk, Lenong, Reog, Sulapan.
Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor (layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik.


APA PERBEDAAN DRAMA DENGAN TEATER
Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno "theatron" yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai 'dran' yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai. Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama.


DAFTAR PUSTAKA

Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung.
Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005.
Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005.


Dipublikasikan oleh: materiteater.blogspot.com

 

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DUDU DEWO - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger